ayoooo ada yang kenal gak sama band ini ? monkey to millionaire ? kalo belum kenal , kenalan gih hehe, mari kita refresh sejenak telinga kita yang terus menerus di paksa ngedengerin musik yang itu itu aja , musik yang mereka tawarin itu segar , coba deh dengarin lagu -lagunya , salah satu lagu mereka yang ane suka , yang bikin ane semangat tiap pulang kerja "Satu Nama" salah satu dari 10 track di album "Lantai Merah-2009", pokoknya lagu-lagu mereka itu segar gak ngebosenin , enerjik , pengen jingkrak-jingkrak dah , terus kalo di lihat dari lkirik lirik mereka itu di ambil dari kehidupan sehari-hari tapi dari sudut pandang yang jarang terpikirkan oleh kita, seperti lirik di dalam lagu mereka yang berjudul "Fakta dan Citra" masih dari album "lantai Merah" gini liriknya "dramatisir hal yang biasa, memang itu warna nya, seperti langit dan birunya, seperti diam dan emasnya. bawa kesalahan lama ke depan semua mata, salahkan nama tiap cerita, tutupi fakta perbaiki citra" naaah ini yang suka ngomongin teman di belakang hayoooooo hahahaha jujur ane baru kenal ama ini band waktu SMA , waktu itu ngedengerin lagu nya di album L.A light indiefest vol.2 kalo gak salah ,judulnya rules and policy , pertama ngedengerin aja udah langsung suka , naaaah sekarang langsung aja dah kita review biografi band ini yaaa!!!
dari yang ane kutip dari facebook fanspage monkey to millionaire gini nih cerita nya gan :
Bagaimana asal usul Monkey to Millionaire?
Wisnu: Teman main di SMP Al-Azhar, kita kenal dari SD dan buat band di SMP. Akhirnya sering cabut bareng dan dengar musik bareng. Dulu berempat, sama Manos. Gara-gara sering dengar bareng, sering bawa lagu yang kami suka. Pas tahun 2000-an buat lagu, 2004 bikin Monkey to Millionaire.
Agan: Tahun '90-an nyoba rekaman di VIM, lagunya Indonesia banget. Jelek banget! Habis itu, nggak pede terus mulai bawain Weezer lagi.
Wisnu: Lagunya katro banget.
Agan: Sampai 2004 akhir, kita coba serius bikin materi baru, ganti nama jadi Monkey to Millionaire. Tadinya Lucca.
Wisnu: Dari lagunya Suzanne Vega. "My name is Lucca!" [Tertawa] Gue dengar lagu itu tiap minggu, mak gue kalau bersihin rumah.
Waktu masih sekolah, musik apa yang mempersatukan kalian?
Agan: Kalau gue paling terakhir masuk band, tapi yang satuin kayaknya Weezer sama Nirvana, soalnya dengarnya itu-itu aja. Kalau bisa botak, kita botak.
Wisnu: Gue pertama kali belajar gitar sama Manos. Ugly Kid Joe, "Mr. Record Man"! Habis itu diajarin "Polly", "Lithium", Nirvana. Setelah bisa main gitar, dengerinnya Weezer. "Wah, enak nih main akustiknya!" Dulu "El Scorcho".
Agan: Tapi dulu susah!
Wisnu: Gue paling bangga pas main Metallica, yang "Nothing Else Matters". Main di sekolahan. Gue sama dia (Agan) suka Weezer, Lightning Seeds, Shed Seven, Blur, Oasis. Udah! Kuliah, gue mentok dengar itu. Kalaupun ada band baru, gue nyari yang warnanya ke sana juga, kayak The Strokes, OK Go. Gue tahu Shed Seven dari dia (Emir).
Kenapa Emir bisa suka Shed Seven, walau beda era?
Emir: Kalau di angkatan gue justru beda, lagu-lagu yang mereka suka. Gue pas pertama kali masuk Al-Azhar, yang duduk sebelah gue veteran, dan gue dibawa ke angkatan mereka.
Wisnu: Gue paling mentok tahunya Echobelly, Sleeper. Shed Seven, malah dia yang bawa.
Seperti apa musik Lucca?
Emir: Pop banget, sih. Kita ada niat masuk ke industri musik dengan musik yang nggak terlalu keras. Jadi pop. Dan kita pun kurang pede sebenarnya dengan lagu itu, cuma kita coba-coba.
Agan: Perlu dicatat rekamannya JELEK! [Tertawa]
Emir: Pas rekaman, gue seperti biasa telat, jadi yang ngisi drum bukan gue! [Tertawa]
Itu sempat ditawar ke label-label?
Agan: Nggak, soalnya udah nggak pede duluan.
Wisnu: Lagunya benar-benar total genjreng, nggak ada melodinya. Gue nggak mikir ke sana. Genjreng, nyanyi, isi drum sama bas. Udah!
Siapa referensinya pada saat itu?
Agan: Weezer, tapi kami juga pernah dapat VCD live-nya The Cardigans, dan itu, "Wah! Sound-nya enak banget!" Jadi mungkin Weezer/Cardigans dan lain-lain.
Apa pemicu perubahannya menjadi Monkey to Millionaire?
Wisnu: Lucca hilang.
Emir: Kita sempat lama nggak ngeband.
Wisnu: Ingin balik lagi, anak-anaknya juga masih ada semua. "Bikin lagi yuk, tapi lebih benar dari yang kemarin. Lebih dipikirin, lagunya jangan asal."
Berapa lama jedanya?
Agan: Empat tahun ada, 'kali.
Wisnu: Tiga, tiga setengah.
Apa yang kalian lakukan pada masa jeda?
Wisnu: Bandel-bandel remaja aja! [Tertawa] Paling nongkrong. Kuliah.
Agan: Nggak ada yang bersangkutan dengan musik.
Emir: Gue sempat ngeband.
Wisnu: Waktu kita kuliah, dia (Emir) SMA. Terus nongkrong di Al-Azhar lagi.
Agan: Dengar musik di mobil aja. Nggak ada mimpi atau rencana untuk ngeband lagi.
Wisnu: Dibilang kuliah, nggak kuliah juga. Dengar musik aja.
Ke mana saja personelnya selama vakum?
Wisnu: Kuliah, Manos keluar kota. Dan dimarahin orang tua, sekolahnya nggak benar. Jadi nggak bisa ngurusin band juga.
Agan: Kalau gue pribadi ingin ngeband lagi karena melihat Jack White sama The Strokes. Sebelum ada itu, R&B lagi merajalela gila-gilaan. Nelly lagi, Nelly lagi, Nelly Nelly Nelly.
Wisnu: Ja Rule!
Agan: Ja Rule, Ashanti, Murder Inc.! Terus tiba-tiba datang cowok ama cewek, cuma gitar dan drum. "Wah, apa ini?" Musiknya agak berat. Terus datang lagi sekumpulan cowok-cowok New York. Gila, kayak musik zaman dulu banget. Keren banget, ada attitude. Dapat semuanya. Akhirnya pengen ngeband lagi.
Wisnu: Kalau gue lihat The Strokes, "Ini keren, tapi apanya?"
Agan: "Modern Age" itu gila, videoklipnya keren banget. Setelah "Say It Ain't So"-nya Weezer, ya. Akhirnya coba kontak-kontak lagi. Nggak ada kerjaan juga.
Wisnu: Gue juga gara-gara lihat OK Go yang "Get Over It". Jadi kangen ama anak-anak, ingin ngeband. Akhirnya dibenerin.
Selain The White Stripes dan The Strokes, adakah band lokal yang membuat semangat untuk ngeband lagi?
Wisnu: Nggak kepikiran.
Agan: Jujur, nggak.
Wisnu: Dulu /rif oke banget bagi gue. Zaman album pertama.
Agan: Setelah Andy /rif tiba-tiba coba jadi HIM, kita agak kecewa. Damn you, kenapa sih? [Tertawa]
Wisnu: Terakhir zamannya "Si Hebat" dan "Aku Ingin", yang videoklipnya di pantai. Tapi setelah coba jadi HIM, dengan lagunya "Pil Malu", coret dari influence! [Tertawa]
Agan: Industri mulai menurun dan menurun. Kecuali Naif, ya. Menurut gue, itu nomor satu. Nggak kemakan zaman apa-apa, tapi tetap eksis. Jalan aja.
Kenapa kembali membentuk band dengan orang-orang yang sama?
Agan: Gue nyari yang paling nyaman, kalau dari gue sendiri. Maksudnya, gue udah tahu mereka semua sukanya apa, dan pasti yang didengar nggak jauh beda lagi zaman sekarang ini. Jadi kenapa nggak coba sama yang dulu, daripada susah-susah harus buat yang baru lagi, harus adaptasi lagi? 'Kan makan waktu lagi.
Emir: Menurut gue, dasarnya kita mulai ngeband lagi karena ada sedikit rasa kangen. Udah lama nggak ngumpul bareng, jadi kalau disatuin dengan band, kayaknya lebih ada tujuan lagi. Lebih bermanfaat, daripada cuma ngumpul dan ketawa-ketawa nggak ada juntrungannya. Kalau sekarang, kita punya visi dan misi. Kita ngumpul jadi sesuatu.
Wisnu: Gue pure gara-gara malas. Gue pingin ngeband, dan gue malas nyari lagi. Dan gue inget dulu punya band, teman-teman juga. Ya sudah. Gue malas nyari aja.
Setelah berkumpul lagi, apakah langsung merasa cocok atau butuh waktu lagi?
Wisnu: Zaman kita nggak ngeband, kita masih nongkrong bareng. Jadi ada usul aja, waktu lagi nongkrong di depan Al-Azhar. "Boleh. Kapan latihan?" Siapa yang ada lagu baru, dibawa ke studio.
Agan: Pertama kali latihan juga sucks, gila-gilaan! "Bisa nggak, ya?"
Wisnu: "Ternyata ribet, ya?!"
Agan: "Ternyata harus pakai soundman!" Tak semudah itu.
Apa lagu pertama yang dibuat sebagai Monkey to Millionaire?
Wisnu: "Mission After Rejection". Liriknya bapuk banget, salah total. Musik masih asal banget. Agak ribet, tapi jadi. Kedua, masuk "Independent Song" dari Manos.
Agan: Itu tahun 2005.
Wisnu: Terus "Radio", "Rules and Policy". Akhirnya dibuat album.
Agan: Tadinya materinya ada 10 lagu, tapi setelah perjalanan waktu, mulai main, ketemu Arian (vokalis Seringai). Dia dengan seenaknya memotong lima lagu. "Ini nggak layak! Keluar EP aja, nggak usah buang-buang duit. Seperlunya aja. Keluarin paling banyak 1000, paling sedikit 500." Main dipotong aja. Kalau di kita, "Ah, masa sih? Lagunya jelek banget?" Soalnya cuma dia yang bilang kayak gitu.
Bagaimana caranya bisa bertemu dengan Arian?
Agan: Main di Weekender, acaranya Sinjitos. Seringai headliner, kita pembuka. Gue ingat Arian lihat dari pojok, berdiri dekat AC. Tepuk tangan nggak, mukanya senang juga nggak. Diam. Terus, "Bagi demo dong!" "Ah, gue takut, ah! Lo 'kan suka nyela!" "Nggak, nggak!" Sebelumnya Arian kenal Regina (dulu pacar Agan, kini istrinya). Akhirnya gue kasih. Dia dengan inisiatif dibuang-buang, pilih lima, terus, "Nih! Keluarin jadi EP!" Buat sepuluh, langsung di-cut. "Kenapa?" "Ini belum layak." "Oh. Ya sudah." Tapi ternyata benar. Kita distribusi cuma kecil-kecilan, cuma di (toko buku) Aksara dan distro-distro. Tapi animonya bagus, Aksara selalu habis dan kami suplai lagi. Akhirnya mulai kedengaran, dan kita coba masuk festival itu (L.A. Lights Indiefest). Secara nggak langsung, lagu itu dipilih Arian juga.
Apa jadinya lima lagu yang dipotong itu?
Wisnu: Jangan didengerin!
Agan: Sumpah, gue nggak akan ngasih itu ke lo! Gue nggak tahu belum layaknya kenapa.
Wisnu: Dia nggak ngomong alasan pun, gue udah tahu dia dari gue SMP. Gue kuliah di Bandung, dia 'kan di Puppen. Terus gue ke Jakarta dan dengar kabar kalau Puppen berubah jadi Seringai. Ricky (gitaris Seringai) temannya abang gue. Jadi kalau dia ngomong tanpa alasan pun, gue terima. Kalau yang datang itu Pasha Ungu terus main cut, gue akan, "Apaan lo?" Gue juga nggak terima! [Tertawa]
Agan: Gue sebetulnya agak takut sama dia karena, "Lo metalhead banget, sementara gue ngasih materi pop." Nggak nyambung. Gue takut mau dibawa ke mana. Tapi akhirnya, "Cuek deh, terserah deh mau ngapain." Ternyata dia paling suka "Radio" dan "Rules". "Wah, lo ada sisi mellow juga!" Setelah ngasih demo, dia bisa dibilang act as a manager.
Wisnu: Kita yang nggak pernah interview, setelah dia dapat demo, "Interview di Trax ya!"
Agan: Gue salut sama dia. Kita nggak minta apa-apa, tapi dia bergerak free will aja. Cuma pas ditanya, "Jadi manajer gue dong!" Dia yang, "No." Supporter aja.
Wisnu: Dengan tato serigalanya dia menolak!
Apa dampak ikut festival L.A. Lights Indiefest?
Wisnu: Dulu kami lagi nggak manggung sama sekali, tapi album sudah jadi. Ingin manggung banget, akhirnya, "Cuek aja yuk, manggung aja."
Agan: Cuma Rp 30.000 juga! Berujung sampai di sini, lah.
Wisnu: Baiknya itu, kita benar-benar nggak ada kerjaan. Terus ada telepon, "Main ya, tanggal segini." Berangkat. Ada kerjaan. Keluar kota, manggung. Orang jadi tahu Monkey to Millionaire.
Tampaknya orang tua lebih mendukung sekarang. Apa yang terjadi?
Agan: Begitu mereka melihat kita di iklan kompilasi itu (L.A. Lights Indiefest Compilation Volume 02), mereka tiba-tiba, "Anak gue masuk sini! Langsung 180 derajat. "Mau ngeband dulu!" "Ayo, silakan!" Ikut festival itu jadi pembuktian juga buat kami. Duit habis buat latihan, beli batere, efek dan senar ada hasilnya.
Wisnu: Dulu di mata orang tua sekolah itu penting, sampai sekarang. Dan band itu ngerusak sekolah banget, jadi nggak mendukung. Terus kita main sama Naif di Hard Rock Cafe. Bagi nyokap, yang penting Naif dan Hard Rock. Terus mulai dibayar, walau nggak penuh. Akhirnya mulai mendukung. Kalau gue suka ini, terus aja gue lakuin. Nyokap yang tadinya nggak suka, jadi capek. Walaupun akhirnya tetap capek karena mengharap gue kerja. Cuma gimana, kerja maunya ini. Nyokap lo mendukung nggak sih, 'Mir?
Emir: Pada dasarnya sih mendukung, cuma gue masih ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, kayak sekolah, untuk bisa berdiri sendiri. Dari awal mereka yang, "Kamu yakin, nggak?" Gue bisa menjawab dengan semua ini, dan gue masih berusaha sampai sekarang. Gue nggak merasa puas sampai sekarang. Gue nggak menutup diri dengan hal-hal lain. Kalau ada peluang usaha yang nggak mengganggu ini semua, gue ambil.
Wisnu: Dulu, "Ngapain sih ngeband? Sekolah aja!" Sekarang, "Ya udah, ngeband. Tapi bikin lagu kayak Ungu!" Orang tua tetap ada sisi duitnya. Walaupun support, tapi tetap pengen anaknya hidup.
Apa kegiatan kalian sehari-hari?
Wisnu: Sekarang gue buat kaus sama Agan (Thank You Everybody! T-shirts), tapi itu lagi berkurang. Gue paling mentok bangun pagi, merokok, ngopi, dengar lagu.
Agan: Latihan.
Emir: Gue merintis usaha warung steak (Meat Me).
Bagaimana proses keluarnya Manos?
Emir: Dari sebelum Indiefest sudah mulai. Misalnya kita ada manggung di luar kota, dia jadi ribet sendiri karena satu-dua hal. Nggak perlu disebut juga, pokoknya jadi agak menghambat band. Misalnya, penginapan satu kamar nggak masalah, dia jadi harus sendiri. Pada saat itu untuk minta lebih dari itu, kita masih agak malu. Belum seberapa, kayaknya nggak layak untuk minta yang kayak gitu. Terus jadwal latihan suka malam, dia jadi nggak fleksibel seperti biasanya.
Wisnu: Perubahan drastis, tadinya dia bebas banget, terus berubah agak ribet. Band mulai ribet banget. Dia ribetnya sama sekali bukan untuk kepentingan band. Akhirnya mulai terseret dan, "Ya udah deh, lo istirahat aja dulu."
Emir: Kita sempat nawarin, "Ya udah, lo selesaikan urusan lo dulu. Kalau waktu lo udah fleksibel dan nggak menghambat, lo balik lagi."
Wisnu: Kita lihat satu gig terakhir. “Kalau masih ngeribetin banget...” Akhirnya ngeribetin.
Agan: Jadinya kayak nggak ada chemistry di panggung. Fokusnya ke bertiga.
Emir: Kita coba untuk memahami situasinya. Ya udah, kita play along. Ternyata benar-benar menghambat.
Wisnu: Nggak ada jalan tengahnya.
Apakah keputusan itu berat untuk diambil?
Agan: Gue pribadi sempat, "Bisa nggak bertiga?" Berat, karena dia udah kayak saudara juga.
Wisnu: Personel band/teman main. Walaupun orang selalu bilang pisahin antara bisnis sama teman, gampang ngomongnya, tapi susah banget. Begitu nge-cut bisnis teman, pasti ada imbasnya. Orang nggak bisa misahin segitunya.
Setelah dia keluar, sempat berpikir bahwa ngeband lagi sudah bukan jodoh dan lebih baik bubar?
Wisnu: Terutama di gue sih.
Emir: O ya, sempat juga Wisnu kerja di Bali. Berapa lama?
Wisnu: Dua bulan. [Tertawa] Sebulan ya?
Emir: Dia di Bali, kita latihan bertiga. "'Nu, ini ada main, nih. Bisa balik nggak?" Dia bela-belain balik ke Jakarta. Perjuangan itu kelihatan.
Bagaimana dampak keluarnya Manos terhadap musik Monkey to Millionaire?
Wisnu: Dia cabut, panjang banget ngomongin masalah, musiknya gimana jadinya. Dulu ada yang main (rhythm guitar), terus melodinya jalan. Gimana caranya biar simpel tapi nggak hilangin itu? Gue gitaris cuma satu! Dulu enak, ada dia bantuin! [Tertawa]
Emir: Dulu kalau gue main, dengan adanya dua gitar, agak bingung dengan tempo gue, sejujurnya. Tapi begitu bertiga, gue lebih stabil, walaupun tempo gue masih suka kacau. Sering kacau, sih! [Tertawa]
Agan: Dulu yang nggak pede banget kalau bertiga itu gue.
Wisnu: Basnya jadi kedengaran! [Tertawa]
Agan: Gue suka banget Weezer. Mereka 'kan dua gitar. Ketika Rivers Cuomo nge-lead, gue suka banget suara distorsi di belakang. Terus begitu kehajar di situ, lha ada bas gue! Tapi anak-anak yang, "Nggak apa-apa, itu perasaan lo doang." Akhirnya, coba ganti aransemen dan mulai terbiasa.
Wisnu: Sekalian dibuat sepi. Dulu masih ramai, ada yang lead. Sekarang lebih sepi, jadi rekamannya dibuat begitu.
Apakah ada perubahan referensi setelah Manos keluar?
Wisnu: Gue bukan perubahan referensi. Pemakaian efek gue jadi ganti, karena mau disunyikan sekalian. Efek yang dulu gue pakai nggak cocok untuk musik sekarang yang bertiga.
Agan: Kalau gue, mulai buka YouTube, lihat band-band trio kayak Nirvana. "Band ini bertiga tapi kok full, gimana caranya ?" Mulai lihat formasi bertiga, kayak Green Day, Nirvana, The Wombats. Mulai belajar.
Jadi basnya lebih main?
Agan: Ya. Bergerak dikit, biar nggak kosong banget. Emir juga lebih atraktif, ngisi bareng gue. Intinya bantu Wisnu.
Wisnu: Gue jadi nyari efek yang berisik banget, biar pas gue nggak genjreng masih ketutup. Tapi malah jadi repot. Kalau dulu gue salah, Manos nutupin. Agan salah, gitar masih tebal. Sekarang bertiga, satu gitar, satu bas, satu drum. Siapa yang salah, kentara banget. Langsung dilihatin!
Agan: Tapi kalau gue bilang pas sih, waktu bertiga. Terus ketemu Iyub (produser Lantai Merah), yang dulu di Sugarstar yang bertiga juga. Dia kayak mau jualan efek! [Tertawa]
Wisnu: Sisi baiknya ada. Manos keluar, kita makin rapi. Dari yang sebelumnya main sembarang, kita belajar banget.
Agan: Banyak yang bilang, "Kayaknya lo better bertiga."
Emir: Biasanya kita jawabnya, "Alhamdulillah!" [Tertawa]
Agan: Iya lah!
Dari mana mendapat inspirasi lirik? Kehidupan sehari-hari?
Wisnu: Iya. Apa yang gue lihat dan apa yang gue rasa.
Ellie itu siapa?
Emir: Sebenarnya Emir, tapi disamar! [Tertawa]
Wisnu: "30 Nanti" itu sebenarnya tentang situasi, bukan orang. Tapi situasi itu gue kasih nama. Gue sering banget dengar cerita, "Kenapa seorang cewek suka belagu dan jual mahal untuk melakukan hubungan dengan orang?" Padahal dia sendiri punya batas waktu 30 buat nikah, atau kayak menopause. Gue sering banget dengar cerita, "Dia nggak mau gara-gara ini, itu." Situasi itu gue kumpulin, terus ngasih tahu, "Lo nggak usah jual mahal, coba aja dulu kalau mau jalin hubungan." Kalau memang cocok, ya cocok. Kalau nggak, ya nggak. Situasi itu gue kasih nama Ellie. Kesannya kayak ngomong ke satu orang. Sebenarnya bukan satu orang, tapi satu kondisi dan situasi.
Banyak yang bilang kalau lirik bahasa Indonesia-nya jauh lebih bagus dibanding yang bahasa Inggris. Sebelumnya lirik Monkey to Millionaire dalam bahasa Inggris semua. Apa yang memicu perubahannya?
Wisnu: Nggak tahu, itu semacam, "Coba aja yuk, bahasa Indonesia. Masa nggak bisa?" Akhirnya kita nyoba, dan, wah, itu susah banget. Sumpah. Lagu pertama yang pakai bahasa Indonesia itu "Kiasan". Gue berdua Emir bikin di rumahnya. Laptop, kamus, kertas putih. Pertama ditransfer dulu ke bahasa Inggris. "Anjing, norak banget kalau di-Indonesia-kan!" Maksud nggak dapat, kata-katanya sok puitis. Kayak Inggris, "Roses are red, violets are blue." Itu 'kan nggak masalah kalau di kuping kita. Tapi kalau ditransfer langsung? "Mawar itu merah." Jijik banget! Nah, gimana cara jijiknya itu nggak kelihatan, tapi maksud nyampe? Kamus, laptop, semua berangkat. Lama banget, gue ama dia. Berapa jam?
Emir: Nggak lama kok. Dua-tiga jam.
Wisnu: Itu lama untuk bikin lirik, gila! [Tertawa]
Jadi tadinya kalian mau terjemahkan lirik bahasa Inggris ke Indonesia, tapi ternyata gagal dan harus mulai dari nol?
Wisnu: Banget. Nyoba, ternyata bisa. Dan orang lebih ngerti. Ya udah.
Emir: Gue cukup puas dengan liriknya.
Agan: Maksudnya kelihatan, nggak jauh-jauh dari maksudnya dan nggak kacangan juga. Nggak mencoba terlalu cerdas, apa adanya.
Wisnu: Kalau bahasa Inggris, udah bagusin semua, tapi gimana pun juga orang baru tahu kalau baca lirik di album. Kalau bahasa Indonesia, orang langsung tahu dan menyampaikan maksud lebih baik. Setelah hari itu gue dan Emir coba, gue udah belajar cara bikin, akhirnya gue bikin lirik sendiri lagi! [Tertawa]
Adakah penulis lirik bahasa Indonesia yang menjadi inspirasi?
Wisnu: Gue belajar banget sama Cholil (vokalis Efek Rumah Kaca). Dia jago banget bagi gue, bahasa Indonesia-nya. Iwan Fals juga jago banget, tapi yang zaman dulu. [Bernyanyi "Sore Tugu Pancoran"] "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu." Itu sama sekali nggak norak. Belajar banget. Gimana cara nggak najong. [Bernyanyi "Hampa Hatiku"-nya Ungu] "Pernahkah kau merasa hatimu hampa?" [Tertawa] Yang baru itu Wali. [Bernyanyi "Cari Jodoh"] "Bapak-bapak, ibu-ibu." Dia bilang, "Aku malu gara-gara aku yang paling jomblo di antara teman-teman." Gokil. Gue lebih lihat Efek Rumah Kaca kalau masalah lirik bahasa Indonesia. "Anjing, ini orang bisa banget!"
Agan: Banyak kata-katanya yang gue itu, "Emang ada kata-kata ini?" Benar-benar cerdas aja. Kok bisa?
Wisnu: Tidak mencontek, tapi gue sangat mengagumi lirik mereka. Jago banget.
Agan: Dan kebetulan bertiga juga! [Tertawa] Pernah kita coba "Strange" pakai bahasa Indonesia, tapi, "Gila, apaan nih?" Pop banget. "Ini kayak lagu cinta anak kecil!" Tadinya kalau memang bisa, kenapa nggak semuanya bahasa Indonesia? Tapi Wisnu beranggapan itu nggak cocok. Mungkin bisa, tapi belum nemu aja. Bukannya kita anti-pop, kita masih dalam jalur pop.
Dari sekian banyak band di luar sana, apa yang membuat Monkey to Millionaire layak disukai?
Emir: Kalau menurut gue, lagu kita bagus dan layak didengar. Kita nggak meniru siapa-siapa. Cukup puas dengan hasil ini, dan mengharapkan orang bisa suka dengan hasil kerja keras kita.
Agan: Di sela-sela pop yang mendayu-dayu dan turunnya era rock & roll, kita nawarin nuansa yang baru di musik Indonesia, bisa dibilang. Mungkin masih dengan tema cinta, sosial dan lain sebagainya, tapi kita kemas dengan sudut pandang yang beda.
Wisnu: Sukai kita karena kita memang bagus! [Tertawa]
sumber : https://www.facebook.com/MonkeytoMillionaire
personel : Wisnu Adji - vocals/guitar Agan Sudrajat - bass/vocals
Sabtu, 13 Juni 2015
Rabu, 03 Juni 2015
GENERASI 90'an
mungkin banyak dari teman teman kita yang lahir di ujung tahun 90'an atau 2000' an yang bertanya tentang generasi 90' ? apasih itu ? seberapa bahagianya mereka sampai begitu bangganya menyebutkan diri sebagai generasi 90'an ? apa mereka adalah generasi yang spesial ? yaaaap disini ane bakal menjelaskan sedikit mengenai apa itu generasi 90'an teman-teman, bagi teman-teman yang membaca blog ini , yang tidak menutup kemungkinan juga berasal dari generasi era 90 ,jika ada yang kurang mengenai penjabaran ntar bisa di tambah atau kasih masukan yaaaaaa, naaaaah ane mulai yaaaaa
generasi era 90' an itu adalah mereka-mereka yang terlahir atau merasakan begitu dashyat nya dan membahagiakan nya era tahun 90'an , dan anak-anak generasi 90 adalah generasi terakhir yang ngerasain betapa nikmatnya bermain di luar rumah sampe nangis nangis jungkir balik buat bisa main diluar tanpa harus bawa gadget kesana kemari , yang terus bikin sibuk dengan bisingnya suara pemberitahuan dari berbagai macam sosmed ataupun sekedar untuk update status di twitter, path, facebook dll. dan masih dengan bangga memainkan kelereng tanpa takut kotor , bermain petak umpet, janjian sama anak anak sekitar rumah nanti sore buat main bola di tanah kosong dekat kuburan, berenang di sungai , jalan jalan kehutan rame rame buat nyari buah chery padahal gak dimakan cuman buat asik asikan , naik sepeda goncengan ke kota , kalo mau tau teman dirumah tinggal samperin kerumahnya kalo ada sendal nya berarti dia ada dirumah tanpa harus basa basi chit chat dulu nanya ada dirumah , bener gak ? apa aja bisa jadi mainan , mulai dari bambu , ranting buat di jadiin ketapel , karet gelang ,sendal bekas , kotak rokok di jadiin mobil mobilan , aaaaaaaaah asik lah pokoknya hahahaha. beli chiki di warung buat dapat tazos nya doang , ini mau makan chiki atau nelen tazos ? tau aaaaah hahahaha.
generasi 90'an juga ngerasain dan tau apa itu WARTEL dan rela ngantri 2 jam buat bisa nelpon seseorang disana, nanya kabar ataupun saling berbalas rindu , tsaaaaah , generasi 90'an juga tau bagaimana rasanya berkirim surat dan betapa membosan kan menunggu surat balasan hahaha. setiap siang sepulang sekolah dengarin radio kadang titip titip salam buat teman teman atau buat gebetan yang sapa tau lagi dengarin siaran radio yang sama , janjian gak pakai telpon genggam kaya sekarang dulu telpon genggam itu harganya selangit jadi janjian nya pake telpon rumah atau telpon umum dihalte halte atau dipinggiran jalan , generasi 90'an adalah generasi yang ngerasain papan tulis warna hitam yang di tulis pake kapur warna warni , generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran menggunakan tipe x putih , generasi yang suka curi curi pandang dan titip salam buat teman sekolah yang disukai lewat temannya , kadang menulis surat dan meletakkan di kolong meja buat orang yang disuka.dulu tren nya rambut ya belah tengah , jadi kalo belah tengah, celana gobor atau cutbrai udah gaul banget , gak kaya sekarang rambut belah tengah aja udah dituduh charlie st 12 wannabe hahahaha.
generasi 90'an adalah generasi yang selalu bangun pagi di hari minggu buat bisa nontonin doraemon, dragon ball , power ranger tanpa harus begadang malam minggu maini gadget sampe pagi , generasi yang tau betapa seru nya main tamiya, betapa membanggakan dengarin lagu nentengin walkman di saku celana dimana legenda lagu cinta seperti dewa 19, sheila on 7, padi, kalo lagunya diputar gak malu-maluin kaya lagu lagu sekarang. dan mengetahui apa hubungan kaset tape dan pensil. kalo bosen nyalain PC dirumah buka MIRC sambil browsing di yahoo!, kadang pusing sendiri kalo lupa kasih makan di Tamagochi, setiap pulang sekolah nontonin keluarga cemara, atau bolos sekolah buat main dindong atau ngerental PS 1 di dekat sekolah, kadang kalo disekolah pas jam belajar lagi bosan , robek kertas sana sini jadi pesawat, kapal, angsa ? apa gak sakti tu hhahaha.
nah segitu dulu dah cerita seputar generasi 90'an nya yaaaaaa, kalo ada yang mau nambahin silahkan , terima kasih udah mampir di sini , kalo ada yang kurang maaf yooooo !
generasi era 90' an itu adalah mereka-mereka yang terlahir atau merasakan begitu dashyat nya dan membahagiakan nya era tahun 90'an , dan anak-anak generasi 90 adalah generasi terakhir yang ngerasain betapa nikmatnya bermain di luar rumah sampe nangis nangis jungkir balik buat bisa main diluar tanpa harus bawa gadget kesana kemari , yang terus bikin sibuk dengan bisingnya suara pemberitahuan dari berbagai macam sosmed ataupun sekedar untuk update status di twitter, path, facebook dll. dan masih dengan bangga memainkan kelereng tanpa takut kotor , bermain petak umpet, janjian sama anak anak sekitar rumah nanti sore buat main bola di tanah kosong dekat kuburan, berenang di sungai , jalan jalan kehutan rame rame buat nyari buah chery padahal gak dimakan cuman buat asik asikan , naik sepeda goncengan ke kota , kalo mau tau teman dirumah tinggal samperin kerumahnya kalo ada sendal nya berarti dia ada dirumah tanpa harus basa basi chit chat dulu nanya ada dirumah , bener gak ? apa aja bisa jadi mainan , mulai dari bambu , ranting buat di jadiin ketapel , karet gelang ,sendal bekas , kotak rokok di jadiin mobil mobilan , aaaaaaaaah asik lah pokoknya hahahaha. beli chiki di warung buat dapat tazos nya doang , ini mau makan chiki atau nelen tazos ? tau aaaaah hahahaha.
generasi 90'an juga ngerasain dan tau apa itu WARTEL dan rela ngantri 2 jam buat bisa nelpon seseorang disana, nanya kabar ataupun saling berbalas rindu , tsaaaaah , generasi 90'an juga tau bagaimana rasanya berkirim surat dan betapa membosan kan menunggu surat balasan hahaha. setiap siang sepulang sekolah dengarin radio kadang titip titip salam buat teman teman atau buat gebetan yang sapa tau lagi dengarin siaran radio yang sama , janjian gak pakai telpon genggam kaya sekarang dulu telpon genggam itu harganya selangit jadi janjian nya pake telpon rumah atau telpon umum dihalte halte atau dipinggiran jalan , generasi 90'an adalah generasi yang ngerasain papan tulis warna hitam yang di tulis pake kapur warna warni , generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran menggunakan tipe x putih , generasi yang suka curi curi pandang dan titip salam buat teman sekolah yang disukai lewat temannya , kadang menulis surat dan meletakkan di kolong meja buat orang yang disuka.dulu tren nya rambut ya belah tengah , jadi kalo belah tengah, celana gobor atau cutbrai udah gaul banget , gak kaya sekarang rambut belah tengah aja udah dituduh charlie st 12 wannabe hahahaha.
nah segitu dulu dah cerita seputar generasi 90'an nya yaaaaaa, kalo ada yang mau nambahin silahkan , terima kasih udah mampir di sini , kalo ada yang kurang maaf yooooo !
Langganan:
Postingan (Atom)


